Mengapa Mao Zedong Kembali Jadi Idola Baru Gen Z di China?

Patung raksasa Mao Zedong di Pulau Juzizhou, Changsha.
Patung raksasa Mao Zedong di Pulau Juzizhou, Changsha.. Sumber foto: bbc.com.

TendaBesar.id - Jakarta - Sosok mendiang pemimpin Tiongkok, Mao Zedong, kembali mencuat dalam percakapan budaya digital anak muda di China. Meski telah tiada selama lima dekade, warisan politiknya kini menjadi topik yang sering dibahas oleh generasi muda, terutama melalui berbagai kompilasi video yang beredar di platform daring.

Data menunjukkan bahwa konten mengenai Mao di situs Bilibili, yang sebagian besar penggunanya berusia 18 hingga 24 tahun, mampu menembus jutaan penayangan. Fenomena ini menandai pergeseran unik dalam cara Gen Z di negeri tersebut memandang sejarah dibandingkan dengan generasi pendahulu mereka.

Ketertarikan ini terlihat dari meningkatnya minat pada literatur sejarah. Sejak tahun 2019 hingga 2025, karya-karya terpilih Mao Zedong tercatat sebagai buku yang paling banyak dipinjam di Perpustakaan Universitas Tsinghua. Di mata para pelajar, sosok yang memimpin Republik Rakyat China sejak 1949 hingga 1976 ini tidak lagi sekadar figur sejarah yang kaku.

Dahulu, narasi resmi Partai Komunis China pasca-1981 cenderung menyeimbangkan pencapaian Mao dengan kesalahannya melalui istilah 70% pencapaian dan 30% kesalahan. Namun, bagi kaum muda saat ini, penyebutan nama Mao sering digantikan dengan panggilan Guru, sebuah julukan yang memiliki latar belakang sejarah tersendiri saat Mao berinteraksi dengan jurnalis asing, Edgar Snow, pada tahun 1970.

Seorang pelajar di Nanjing mengungkapkan perasaannya saat menyaksikan video dua perempuan muda yang menyanyikan lagu patriotik di depan patung Mao Zedong muda. Sebagaimana dikutip dari www.bbc.com:

“Mereka bernyanyi dengan penuh penghayatan, dan patung itu begitu tinggi dan muda. Saat menontonnya, saya tiba-tiba merasa cukup emosional,”

Dong — www.bbc.com

Dinamika Ruang Diskusi dan Persepsi Sosial

Fenomena ini dinilai bukan sekadar nostalgia sejarah. Para pakar berpendapat bahwa perhatian Gen Z terhadap Mao berhubungan erat dengan persepsi mereka mengenai isu ketimpangan kekayaan dan mobilitas sosial yang dirasakan saat ini. Mereka menggunakan platform daring untuk mengeksplorasi kembali pemikiran sang pemimpin sebagai bentuk artikulasi terhadap tantangan sosial yang dihadapi.

Meski demikian, kebebasan dalam membahas sosok historis ini memiliki batasan yang kontras. Saat pelajar di Nanjing, Dong, merasa emosional melihat representasi sosok Mao yang heroik, ia juga menyadari adanya batasan ketat dalam diskusi politik masa kini. Topik terkait pemimpin China saat ini, Xi Jinping, dianggap sebagai wilayah yang tidak dapat didiskusikan secara terbuka di ruang publik, mencerminkan adanya swasensor di tengah masyarakat digital.

Munculnya kembali sosok Mao Zedong di ruang digital mencerminkan kompleksitas identitas politik di kalangan anak muda China. Di satu sisi, ada kerinduan terhadap nilai-nilai masa lalu, namun di sisi lain, terdapat tantangan dalam menyuarakan opini politik di era modern. Fenomena ini terus dipantau sebagai indikator perubahan persepsi sosial generasi muda terhadap sejarah dan kebijakan nasional mereka ke depan.

Sumber rujukan: bbc.com, www.bbc.com, news.detik.com.

Menyiapkan ruang diskusi…
Lebih baru Lebih lama

ads

News