Target Inflasi 2026 Masih Realistis Meski Terancam El Nino, Ekonom Prediksi 3,1‑3,4%

Josua Pardede menjelaskan target inflasi 2026 di konferensi pers Jakarta
Josua Pardede menjelaskan target inflasi 2026 di konferensi pers Jakarta. Sumber foto: commons.wikimedia.org.

TendaBesar.id - Jakarta - Pemerintah Indonesia tetap menegaskan target inflasi sebesar 2,5 % ± 1 % pada tahun 2026, meski ancaman iklim El Nino dan kenaikan harga energi menambah tekanan pada harga pangan. Target tersebut dianggap masih dapat dicapai, namun ruang aman inflasi kini semakin menyempit.

Data inflasi Agustus menunjukkan kenaikan tahunan menjadi 3,19 % dibandingkan Juli yang 2,88 %, sementara inflasi inti tetap stabil di 2,92 %. Peningkatan inflasi pangan yang volatil, atau “volatile food”, naik menjadi 4,06 % dari 2,52 % bulan sebelumnya, menambah kompleksitas kebijakan moneter.

Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai posisi awal inflasi masih cukup aman. Ia menjelaskan bahwa skenario dasar sebelum dampak El Nino terlihat menempatkan inflasi akhir 2026 sekitar 3,13 %, masih di bawah batas atas 3,5 % yang menjadi acuan target. Dengan perkembangan terbaru, ia memproyeksikan inflasi akhir tahun berada di kisaran 3,1 % hingga 3,4 %, meski ruang aman tidak selebar beberapa bulan sebelumnya.

Target 1,5 %‑3,5 % tersebut merupakan sasaran Indeks Harga Konsumen (IHK) secara keseluruhan, bukan batas khusus untuk inflasi pangan yang bersifat volatil. “Inflasi pangan bergejolak sendiri dapat berada di atas 3,5 % untuk sementara tanpa otomatis membuat inflasi umum keluar dari sasaran,” kata Pardede, mengingat contoh pada Juni ketika volatile food mencapai 5,58 % sementara inflasi umum tetap di 3,34 %.

Menanggapi pertanyaan tentang proyeksi inflasi akhir tahun, Pardede menjelaskan skenario dasar sebelum El Nino. Sebagaimana dikutip dari kumparan.com:

“Skenario dasar kami sebelum dampak El Nino sepenuhnya terlihat menempatkan inflasi akhir 2026 sekitar 3,13 persen, sehingga masih berada di bawah batas atas 3,5 persen.”

Josua Pardede — kumparan.com

Risiko El Nino dan Tantangan Kebijakan

Pardede menekankan bahwa siklus El Nino 2026 sudah mencapai kategori sangat kuat sejak Juli, lebih cepat dibandingkan episode besar sebelumnya. “Risiko El Nino kali ini menurut saya tidak boleh diremehkan. Siklus El Nino 2026 sudah mencapai kategori sangat kuat sejak Juli, lebih cepat dibandingkan episode besar 1982‑1983, 1997‑1998 dan 2015‑2016 yang umumnya mencapai puncak pada kuartal IV,” ia menambahkan. Kondisi ini meningkatkan risiko musim kering berkepanjangan yang dapat mengganggu produksi pangan, terutama komoditas berumur pendek seperti beras, cabai, bawang, serta produk hewani.

Meskipun produksi beras diperkirakan hanya turun 0,88 % pada periode Juli‑September dibandingkan tahun sebelumnya, potensi penurunan produksi kelapa sawit diperkirakan baru terasa pada 2027 dengan penurunan sekitar 5 %. Ekonom INDEF, Rizal Taufikurahman, menilai bahwa kebijakan moneter saja tidak cukup; pemerintah harus lebih agresif dalam menjaga stok, distribusi, dan cadangan pangan, serta mengatur impor terukur agar tekanan harga tidak melampaui batas atas sasaran.

Rizal juga mengingatkan paradoks antara inflasi pangan yang tinggi dan daya beli yang melemah. “Kenaikan harga pangan dapat memaksa rumah tangga menengah bawah mengalokasikan porsi pendapatan yang lebih besar untuk kebutuhan pokok dan mengurangi konsumsi nonpangan. Akibatnya, headline inflation bisa tetap tinggi karena supply shock, tetapi inflasi inti dan konsumsi domestik justru tertekan,” ujarnya, menegaskan bahwa inflasi tinggi dalam kondisi ini lebih merupakan ‘pajak inflasi’ yang menggerus daya beli.

Rizal menekankan perlunya langkah kebijakan yang lebih komprehensif di tengah tekanan inflasi. Sebagaimana dikutip dari kumparan.com:

“Karena itu, respons kebijakan tidak cukup hanya mengandalkan instrumen moneter; pemerintah harus lebih agresif menjaga stok, distribusi, cadangan pangan, dan opsi impor terukur agar tekanan harga tidak menembus batas atas sasaran.”

Rizal Taufikurahman — kumparan.com

Dengan target inflasi 2026 yang masih berada dalam rentang yang ditetapkan, pemerintah dan Bank Indonesia harus terus memantau dinamika harga pangan dan energi, serta mengantisipasi dampak El Nino yang semakin kuat. Kebijakan yang menggabungkan instrumen moneter, pengelolaan stok pangan, dan dukungan logistik dipandang penting untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat menjelang akhir tahun.

Sumber rujukan: kumparan.com, liputan6.com.

Menyiapkan ruang diskusi…
Lebih baru Lebih lama

ads

News