Rupiah Menguat ke Rp17.632 per Dolar AS di Tengah Tekanan Dolar Global

Lembaran uang Rupiah dan Dolar AS di atas meja transaksi keuangan.
Lembaran uang Rupiah dan Dolar AS di atas meja transaksi keuangan.. Kredit: Wikimedia Commons (Public domain). Sumber: “Law of the Republic of Indonesia Number 12 of 2016”. Digunakan sesuai CC0 1.0; halaman sumber.

TendaBesar.id - Jakarta - Mata uang rupiah berhasil mengakhiri perdagangan di zona hijau pada penutupan pasar spot hari Selasa (8/9/2026). Nilai tukar mata uang Garuda mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,05 persen dan berada di posisi Rp17.632 per dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan ini mengindikasikan adanya pemulihan bertahap dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp17.640 per dolar AS.

Laju positif rupiah terjadi di tengah dinamika pasar keuangan kawasan Asia yang bergerak bervariasi. Penguatan instrumen mata uang domestik ini menjadi bagian dari tren pemulihan terbatas sejumlah mata uang regional yang memanfaatkan momentum pelemahan indeks dolar AS pada sesi perdagangan yang sama.

Dalam peta pergerakan mata uang kawasan Asia, yen Jepang memimpin penguatan tertinggi terhadap greenback dengan kenaikan mencapai 0,39 persen. Won Korea Selatan menyusul di urutan berikutnya dengan apresiasi sebesar 0,13 persen, diikuti dolar Taiwan yang naik 0,11 persen. Rupiah berada di posisi berikutnya dengan penguatan 0,05 persen, disusul dolar Singapura yang mencatatkan kenaikan tipis 0,02 persen.

Di sisi lain, tidak sedikit mata uang utama Asia yang justru tertekan menghadapi keperkasaan mata uang Negeri Paman Sam. Ringgit Malaysia mencatatkan penurunan terdalam dengan koreksi 0,28 persen, disusul rupee India yang melemah 0,27 persen serta baht Thailand yang terdepresiasi 0,23 persen. Sementara itu, peso Filipina, dolar Hong Kong, dan yuan China masing-masing mengalami pelemahan tipis berkisar antara 0,02 persen hingga 0,03 persen.

Pergerakan mata uang regional tersebut sejalan dengan pelonggaran tekanan indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia. Indeks dolar tercatat melorot ke posisi 98,95 pada akhir perdagangan sore hari, melandai dari posisi perdagangan hari sebelumnya yang sempat menyentuh angka 99,17. Melandainya indeks ini memberikan ruang napas bagi mata uang negara berkembang untuk bergerak menguat.

Pengaruh Cadangan Devisa dan Kebijakan Bank Indonesia

Kinerja positif rupiah pada penutupan perdagangan juga ditopang oleh faktor internal perekonomian nasional. Salah satu sentimen positif yang membentengi mata uang domestik adalah posisi cadangan devisa Indonesia yang mengalami peningkatan. Kenaikan pasokan valuta asing ini memberikan sinyal positif bagi para pelaku pasar mengenai ketahanan eksternal ekonomi nasional dalam mengantisipasi gejolak pasar keuangan global.

Langkah strategis serta respons kebijakan moneter yang konsisten dari Bank Indonesia turut menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Kebijakan otoritas moneter dalam mengawal stabilitas rupiah di pasar spot maupun pasar domestik non-penyerahan tetap menjadi pilar utama dalam meredam volatilitas berlebih yang dipicu oleh sentimen eksternal.

Di samping dinamika domestik, pergerakan pasar keuangan global saat ini tengah berfokus pada perkembangan kondisi geopolitik internasional. Para pelaku pasar dan investor global juga terus mencermati arah kebijakan suku bunga acuan The Fed serta rilis data inflasi Amerika Serikat yang menjadi indikator krusial dalam menentukan arah pergerakan arus modal internasional ke depan.

Penguatan rupiah ke level Rp17.632 per dolar AS menjadi indikasi kuat bahwa fondasi moneter dalam negeri masih berada dalam kondisi yang relatif terjaga. Meski demikian, kewaspadaan tinggi tetap diperlukan mengingat dinamika geopolitik global dan arah kebijakan moneter bank sentral AS masih menjadi tantangan utama bagi stabilitas pasar keuangan regional pada masa mendatang.

Sumber rujukan: investasi.kontan.co.id, market.bisnis.com.

Menyiapkan ruang diskusi…
Lebih baru Lebih lama

ads

News