TendaBesar.Id - Jakarta - PRESIDEN TAK SEMESTINYA NYINYIR TERHADAP KRITIK. Dalam pidato peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) baru-baru ini (18 September 2026), di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Presiden Prabowo Subianto menyindir para pakar yang kerap mengkritik Pemerintah. Dengan nada satire, beliau mengatakan bahwa ada orang yang, “saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok.”
Kalimat itu mungkin dimaksudkan sebagai sindiran.
Akan tetapi, justru karena keluar dari mulut Presiden, ia layak direnungkan lebih serius: Apa sebenarnya yang seharusnya dilakukan seorang penguasa ketika berhadapan dengan para pengkritiknya—terutama mereka yang memiliki keahlian dan kompetensi? Bukankah kekuasaan justru membutuhkan kritik?
Seorang pemimpin tidak perlu mengamini semua pendapat pakar. Sama sekali tidak. Pakar bisa keliru. Sebagaimana Pemerintah juga bisa keliru. Akan tetapi, jika sebuah kritik dianggap salah, jawaban yang paling berwibawa mestinya sederhana: bantah argumennya, periksa datanya, dan luruskan analisisnya. Bukan merendahkan orangnya.
Sebabnya, menyebut seorang pengkritik “goblok” tidak serta-merta membuat pendapat kita menjadi benar. Ejekan bukan bantahan. Di sinilah persoalannya menjadi lebih dalam daripada sekadar soal etika berbicara.
Kekuasaan memiliki kecenderungan alamiah untuk dikelilingi orang-orang yang mengatakan apa yang ingin dia dengar. Semakin tinggi seseorang berada dalam struktur kekuasaan, semakin mahal harga sebuah kritik yang jujur.
Karena itu seorang pemimpin justru membutuhkan orang-orang yang berani berkata, “Maaf, Anda keliru, Pak!” Bukan hanya orang-orang yang sigap berkata, “Anda benar, Pak!”
Maka dari itu pertanyaannya kemudian bukan lagi siapa yang paling pintar. Pertanyaannya: Untuk apa kepintaran itu digunakan?Apakah kepintaran digunakan untuk mencari kebenaran, atau sekadar memenangkan perdebatan? Apakah ilmu digunakan untuk mengoreksi kekuasaan, atau untuk membenarkan kekuasaan? Apakah seorang pemimpin ingin mendengar apa yang benar, atau hanya ingin mendengar apa yang menyenangkan telinga?
Di titik inilah perdebatan politik tentang “pakar yang terlalu pintar” membawa kita pada sebuah ukuran kecerdasan yang jauh lebih tua dan lebih mendasar.
Terkait itu, Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra. memberikan ukuran yang sangat menarik. Kata beliau:
«اعلموا أنَّ أَكْيَس الكَيْس: التَّقوى، وأنَّ أَحْمَق الحُمْق: الفجور»
_"Ketahuilah bahwa cerdas yang paling cerdas adalah takwa. Bodoh yang paling bodoh adalah melakukan banyak dosa."_ *(Ibn Sa'ad, _Thabaqaat al-Kubraa_, 3/182).*
Nasihat ini seakan mengingatkan bahwa kepintaran dan kecerdasan bukanlah hal yang selalu sama. Seseorang bisa sangat pintar, tetapi tidak bijaksana. Bisa sangat ahli, tetapi tidak rendah hati. Bisa memiliki banyak pengetahuan, tetapi tidak memiliki keberanian untuk mengakui kesalahan. Bahkan bisa begitu pintar sehingga setiap orang yang berbeda pendapat dengannya dianggap bodoh.
Menurut Sayidina Abu Bakar ra., ukuran kecerdasan yang paling tinggi justru adalah takwa. Takwalah yang menjadikan seseorang memiliki kesadaran moral yang membuat dirinya tidak menjadikan ilmu, jabatan, maupun kekuasaan sebagai alat untuk mengikuti kesombongan dirinya.
Nasihat ini menjadi semakin relevan ketika kita berbicara tentang pemimpin. Sebabnya, pemimpin yang bertakwa semestinya tidak hanya bertanya, “Siapa yang mengatakan ini?” Ia juga bertanya: “Apakah yang dikatakannya benar?”
Ia tidak buru-buru menolak kritik hanya karena datang dari orang yang tidak disukainya. Ia memeriksa substansinya. Ia menguji datanya. Ia mempertimbangkan kemungkinan bahwa dirinya memang keliru.
Sikap seperti itu bukan tanda kelemahan seorang pemimpin. Justru sebaliknya. Itulah salah satu bentuk kekuatan moral dalam memegang kekuasaan.
Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra. sendiri, ketika menjadi khalifah, mengatakan:
«فإن أحسنت فأعينوني وإن زغت فقوموني»
_“Jika aku berbuat baik, bantulah aku. Jika aku menyimpang, luruskanlah aku.”_
Bayangkan: seorang khalifah justru meminta dirinya diluruskan jika menyimpang. Ini bukan sekadar nasihat tentang kerendahan hati. Ini adalah etika kekuasaan: bahwa seorang pemimpin tidak boleh menganggap dirinya selalu benar hanya karena ia sedang memegang kekuasaan; bahwa rakyat tidak diciptakan untuk menjadi paduan suara yang terus-menerus mengucapkan “iya”; bahwa kritik—bahkan kritik yang tidak nyaman—kadang justru merupakan bentuk kesetiaan yang paling mahal.
Maka dari itu, ketika seorang presiden menyindir para pakar karena kritik mereka, barangkali yang perlu kita renungkan bukan semata-mata apakah para pakar itu pintar atau bodoh.
Lebih penting dari itu: Apakah kekuasaan masih cukup rendah hati untuk mendengarkan kemungkinan bahwa dirinya keliru? Sebabnya, pakar yang salah masih bisa dibantah. Pendapat yang keliru masih bisa dikoreksi. Data yang salah masih bisa diluruskan.
Akan tetapi, ketika sebuah kekuasaan mulai menganggap kritik sebagai gangguan, pengkritik sebagai musuh dan perbedaan pendapat sebagai kebodohan, yang sedang terancam bukan hanya perasaan para pakar. Yang terancam adalah kemampuan kekuasaan untuk mengoreksi dirinya sendiri.
Karena itu mungkin kita perlu membalik sedikit logika sindiran tentang “terlalu pintar”.
Yang paling berbahaya bukanlah orang yang terlalu pintar. Yang lebih berbahaya adalah orang yang merasa kepintarannya membuat diriya tidak perlu dikoreksi.
Barangkali itulah makna terdalam pesan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a.:
اعلموا أنَّ أَكْيَس الكَيْس: التَّقوى
_“Ketahuilah bahwa cerdas yang paling cerdas adalah takwa.”_
Sebabnya, pada akhirnya, kecerdasan seorang pemimpin tidak hanya tampak dari kemampuannya berbicara, berdebat atau menyindir para pengkritik.
Kecerdasan seorang pemimpin justru diuji oleh kemampuannya mendengar kalimat yang paling tidak ingin dia dengar, “Maaf, Pak. Anda mungkin keliru.” Juga pemimpin yang mampu menjawab kritik dengan mengatakan, “Mari kita periksa.”
Itulah sikap pemimpin yang barangkali jauh lebih dekat pada makna kecerdasan yang dimaksud oleh Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra. daripada pemimpin yang selalu berhasil memenangkan setiap perdebatan.
Wa maa tawfiiqii illaa bilLaah.
By Focus
