
TendaBesar.id - Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan 1,82% menjadi 6.636,47 pada pekan ini, meski penutupan hari Jumat, 4 September 2026, tetap berada di level 6.636,47 setelah penurunan 0,47%. Kenaikan ini menunjukkan momentum positif pasar saham Indonesia di tengah dinamika arus modal global.
Meskipun aliran dana asing secara keseluruhan masih bersifat net buy, sejumlah saham mengalami tekanan jual signifikan dari investor asing. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip oleh beberapa media menunjukkan adanya perbedaan tajam antara saham-saham yang menjadi target beli dan yang menjadi sasaran jual dalam satu minggu.
Investor asing menambah posisi mereka di pasar Indonesia dengan net buy senilai Rp1,85 triliun menurut data yang dirilis oleh Kontan pada 5 September 2026. Sementara itu, laporan lain dari Bisnis.com mencatat total net buy mencapai Rp2,30 triliun selama periode yang sama, menandakan konsistensi aliran modal masuk meski dengan variasi perhitungan.
Arus dana tersebut tersalurkan terutama ke saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan. Empat bank terbesar di Indonesia, yang sering disebut "Big Four", berada di antara emiten paling banyak diburu oleh investor asing selama pekan ini, memperkuat sentimen positif terhadap stabilitas keuangan domestik.
Namun, net buy asing belum menyebar merata di seluruh segmen. Beberapa saham mengalami tekanan jual yang cukup kuat, menandakan perbedaan preferensi dalam portofolio asing. Penjualan berskala besar ini menambah lapisan kompleksitas bagi pelaku pasar domestik yang mencoba menilai arah aliran modal selanjutnya.
Menurut data yang dirilis oleh Kontan, lima saham teratas dengan net sell terbesar dalam sepekan terakhir adalah: Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dengan penjualan Rp485,66 miliar, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) Rp337,42 miliar, PT Indosat Tbk (ISAT) Rp225,62 miliar, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp173,0 miliar, dan PT Petrosea Tbk (PTRO) Rp162,7 miliar. Saham-saham ini mewakili sektor agribisnis, pertambangan, telekomunikasi, serta konstruksi, yang secara historis memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan sentimen global.
Penurunan pada saham-saham ini dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti fluktuasi harga komoditas, kebijakan tarif, atau perubahan ekspektasi pertumbuhan laba. Sementara itu, data Suara.com mencatat bahwa total penjualan bersih asing selama pekan tersebut mencapai Rp29,7 miliar, menegaskan bahwa meskipun net buy tetap positif, terdapat aliran keluar yang tidak dapat diabaikan.
Kombinasi antara net buy yang kuat di sektor perbankan dan net sell signifikan di beberapa emiten menimbulkan pertanyaan tentang strategi alokasi risiko para investor asing. Analis pasar memperkirakan bahwa penyesuaian portofolio ini dapat mencerminkan upaya mengoptimalkan eksposur terhadap sektor yang dipandang lebih defensif di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Secara keseluruhan, pekan ini menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia tetap menarik bagi investor asing, terbukti dari arus masuk modal yang signifikan. Namun, pola penjualan yang terpusat pada lima saham utama mengingatkan bahwa preferensi sektor dapat berubah cepat, menuntut pemantauan terus‑menerus oleh pelaku pasar domestik dalam merespons dinamika aliran dana internasional.
Sumber rujukan: investasi.kontan.co.id, finance.detik.com, market.bisnis.com, suara.com.