Wall Street Melemah, Investor Pantau Nvidia dan Data Inflasi AS

Grafik indeks saham Wall Street menurun, logo Nvidia, dan gedung Federal Reserve di latar belakang
Grafik indeks saham Wall Street menurun, logo Nvidia, dan gedung Federal Reserve di latar belakang. Sumber foto: lh3.googleusercontent.com.

Pada perdagangan Senin (24/8), Wall Street menutup dengan catatan melemah; indeks S&P 500 turun 0,28 persen menjadi 7.652,86 poin, sementara Nasdaq Composite kehilangan 0,76 persen dan berakhir di 25.980,19 poin. Penurunan ini dipicu oleh aksi jual besar-besaran di sektor teknologi, terutama saham chip yang tertekan oleh spekulasi kebijakan ekonomi dan politik AS.

Investor kini menatap pekan yang penuh agenda penting, termasuk laporan keuangan kuartalan Nvidia, data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menjadi acuan Federal Reserve, serta perkembangan kebijakan sanksi ekonomi Amerika Serikat terhadap Iran. Kombinasi faktor-faktor tersebut menambah ketidakpastian bagi pasar saham global.

Tekanan pada saham teknologi terasa jelas di indeks Philadelphia SE Semiconductor (SOX) yang melemah, dengan Nvidia (NVDA) turun 2,9 persen, Micron Technology (MU) anjlok 5,8 persen, dan Broadcom (AVGO) meluncur 2,6 persen. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran investor atas prospek pertumbuhan AI yang masih dipertanyakan, terutama setelah Gubernur Texas Greg Abbott mengkritik keras pembangunan pusat data AI di negaranya. Abbott menilai perusahaan pusat data "menggali kubur mereka sendiri" setelah gagal memperoleh dukungan masyarakat sekitar, dan bahkan memerintahkan penghentian sementara persetujuan proyek baru melalui proses interkoneksi jaringan listrik Texas.

Kekhawatiran politik terhadap AI tidak hanya terbatas pada Texas. Ohsung Kwon, kepala strategi ekuitas di Wells Fargo, menyoroti bahwa retorika keras para politisi mengenai AI dan pusat data dapat menjadi risiko signifikan menjelang pemilu. "Kekhawatiran yang lebih besar adalah retorika keras yang mulai kita dengar dari para politisi mengenai AI dan pusat data," ujar Kwon, menekankan bahwa sentimen politik dapat memperparah volatilitas pasar teknologi.

Kekhawatiran politik terhadap AI tidak hanya terbatas pada Texas.

“Kekhawatiran yang lebih besar adalah retorika keras yang mulai kita dengar dari para politisi mengenai AI dan pusat data.”

Ohsung Kwon — kumparan.com

Kebijakan AS terhadap Iran dan Dampaknya pada Pasar

Di sisi lain, pemerintahan Presiden Donald Trump pada Senin mengumumkan kemungkinan memperluas sanksi terhadap negara‑negara yang melakukan bisnis dengan Iran, sebuah langkah yang disebut sebagai bagian dari "economic D‑Day". Meskipun belum ada sanksi konkret yang diterapkan, sinyal kebijakan ini menambah tekanan pada pasar global, terutama pada sektor energi dan mata uang. Investor menilai bahwa kebijakan tersebut dapat memperkuat dolar AS, sekaligus menambah beban pada perusahaan yang memiliki eksposur tinggi terhadap pasar Timur Tengah.

Kekhawatiran terhadap membengkaknya utang pemerintah AS juga kembali muncul. Yield Treasury AS 30‑tahun tetap berada di atas 5 persen, menandakan pasar masih mengantisipasi langkah tambahan dari Departemen Keuangan yang dipimpin oleh Menteri Keuangan Scott Bessent. Bessent dikabarkan siap menggunakan General Account Departemen Keuangan yang hampir mencapai satu triliun dolar untuk mendukung pembelian kembali obligasi, sebuah upaya yang dapat memengaruhi likuiditas pasar obligasi dan, pada gilirannya, ekuitas.

"Nvidia perlu memberikan hasil yang mengesankan agar salah satu kaki pasar saham tetap stabil, sementara Warsh perlu memberikan kejelasan mengenai suku bunga agar kaki lainnya tetap stabil," kata Richard Reyle, kepala investasi di Questar Capital Partners. Pernyataan ini menegaskan bahwa kinerja Nvidia dan kebijakan moneter Federal Reserve akan menjadi dua pilar utama yang menahan atau memperparah pergerakan pasar dalam minggu mendatang.

Pernyataan ini menegaskan bahwa kinerja Nvidia dan kebijakan moneter Federal Reserve akan menjadi dua pilar utama.

“Nvidia perlu memberikan hasil yang mengesankan agar salah satu kaki pasar saham tetap stabil, sementara Warsh perlu memberikan kejelasan mengenai suku bunga agar kaki lainnya tetap stabil.”

Richard Reyle — kumparan.com

Sektor keuangan menunjukkan kontraksi yang berlawanan dengan tekanan teknologi. Indeks sektor keuangan (SPSY) menguat, didorong oleh kenaikan saham JPMorgan Chase (JPM) sebesar 1,4 persen dan Visa (V) yang melaju 3 persen. Penguatan ini membantu Dow Jones Industrial Average (DJI) mencatat kenaikan 0,26 persen menjadi 53.417,16 poin, menyeimbangkan penurunan di sektor lain.

Investor juga menantikan pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole yang dijadwalkan pada Jumat. Simposium tersebut biasanya menjadi panggung bagi pejabat Fed untuk memberi petunjuk tentang arah kebijakan suku bunga. Jika Warsh menegaskan komitmen pada kebijakan moneter yang ketat, pasar dapat memperkirakan tekanan inflasi tetap tinggi, sementara sinyal pelonggaran dapat menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga dan mendorong rally saham.

Data inflasi PCE yang akan dirilis pada Rabu menjadi fokus tambahan. Setelah data inflasi konsumen awal bulan menunjukkan tekanan harga yang relatif jinak, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga dalam waktu dekat menurun. Namun, jika PCE menunjukkan angka yang lebih tinggi dari perkiraan, tekanan pada Fed untuk mempertahankan atau menaikkan suku bunga kembali dapat memicu penurunan lebih lanjut pada indeks saham, terutama yang sensitif terhadap kebijakan moneter seperti teknologi.

Dengan pasar yang berada di persimpangan antara kebijakan geopolitik, data ekonomi, dan ekspektasi kinerja perusahaan teknologi, investor diperkirakan akan tetap berhati-hati. Kekuatan sektor keuangan dapat menahan penurunan lebih dalam, namun ketidakpastian seputar sanksi Iran, hasil Nvidia, dan data inflasi PCE tetap menjadi faktor utama yang dapat menggerakkan arah Wall Street dalam minggu mendatang.

Sumber rujukan: kumparan.com.

Menyiapkan ruang diskusi…
Lebih baru Lebih lama

ads

News