Musibah besar melanda kawasan Dar-es-salam, Distrik Bbessia, Conakry, Guinea, ketika gunung sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) mendadak runtuh dan menimbun permukiman warga di sekitarnya pada Minggu, 23 Agustus 2026, sekitar pukul 02.00 dini hari waktu setempat. Peristiwa tragis ini terjadi saat hujan deras tengah mengguyur wilayah ibu kota tersebut, yang memicu ketidakstabilan material sampah hingga longsor menerjang deretan rumah penduduk.
Berdasarkan laporan resmi dari pihak pemerintah setempat, insiden maut tersebut mengakibatkan 30 orang meninggal dunia dan enam warga lainnya mengalami luka berat. Tim penyelamat gabungan bersama jajaran pemerintah langsung bergerak cepat ke lokasi kejadian dengan mengerahkan personel serta peralatan berat untuk mengevakuasi korban yang tertimbun longsoran.
Operasi pencarian dan penanganan darurat berjalan di tengah kepanikan warga sekitar. Pemerintah mengerahkan sumber daya manusia serta peralatan berat berupa ekskavator guna mengeruk material sampah yang menimbun bangunan rumah. Alat berat tersebut bekerja memindahkan bongkahan sampah demi mempermudah pencarian korban yang dikhawatirkan masih terjebak di dalam reruntuhan.
Perdana Menteri Guinea Amadou Oury Bah mendatangi lokasi kecelakaan secara langsung untuk memantau alur evakuasi dan memastikan penanganan medis bagi para korban luka. Kehadiran pimpinan pemerintah di tengah kerumunan warga menjadi sorotan saat tim medis dan petugas evakuasi berupaya keras mengamankan area bencana.
Sebelum jumlah korban jiwa resmi dirilis pemerintah, penanganan awal evakuasi diungkapkan oleh tokoh masyarakat setempat.
“Kami telah mengevakuasi 18 jenazah yang kemudian dibawa ke kamar jenazah”
Lancine Sylla — detikcom
Konteks Penutupan TPA dan Pengosongan Area Pemukiman
Tragedi longsornya TPA ini mengundang perhatian luas mengingat bahaya permukiman yang berada di area rawan bencana. Beberapa hari sebelum musibah terjadi, pemerintah daerah sebenarnya telah mengeluarakan instruksi pengosongan permukiman warga di sekitar TPA karena kekhawatiran atas tingginya risiko keruntuhan material sampah.
Selain perintah pengosongan kawasan hunian, lokasi TPA Dar-es-salam tersebut sebenarnya sudah dijadwalkan untuk ditutup secara permanen pada hari terjadinya bencana. Momentum yang bertepatan ini memicu desakan publik agar pemerintah melakukan investigasi menyeluruh mengenai penyebab kelalaian dan keterlambatan penanganan fasilitas pembuangan sampah tersebut.
Peristiwa ini juga menjadi tantangan besar bagi kepemimpinan Presiden Jenderal Mamadi Doumbouya, yang naik ke tampuk kekuasaan melalui kudeta pada 2021 sebelum terpilih secara resmi sebagai presiden pada Desember 2025. Penanganan pascabencana kini difokuskan pada pemulihan korban luka serta kepastian bantuan bagi warga terdampak.
Mantan Perdana Menteri Guinea yang juga tokoh oposisi menyampaikan keprihatinannya atas jadwal penutupan TPA yang bersamaan dengan hari bencana.
“Tragedi ini semakin memprihatinkan megingat penutupan tempat pembuangan sampah tersebut sebenarnya telah dijadwalkan pada hari Minggu ini, 23 Agustus”
Cellou Dalein Diallo — detikcom
Proses penanganan korban serta pencarian di area longsor TPA Dar-es-salam masih berlanjut. Pemerintah berjanji memprioritaskan bantuan medis dan logistik bagi keluarga korban yang berduka serta warga yang kehilangan tempat tinggal.
Sumber rujukan: detikcom, news.detik.com.