
Asosiasi Atletik Perguruan Tinggi Nasional Amerika Serikat atau NCAA kembali menghadapi tekanan hukum setelah pengadilan di Louisiana membuka jalan bagi 16 pemain untuk kembali mengikuti kompetisi sepak bola perguruan tinggi. Sebagian dari mereka bahkan sedang berada dalam daftar kamp pelatihan NFL, sehingga putusan tersebut memunculkan situasi tidak biasa antara jalur olahraga kampus dan profesional.
Persoalan bermula dari penerapan aturan baru yang memungkinkan atlet memiliki waktu lima tahun untuk memainkan lima musim kompetisi. NCAA sebelumnya menentukan pemain angkatan 2022 mana yang dapat memperoleh perlindungan aturan peralihan dan mana yang tidak. Hakim menilai perlakuan yang berbeda itu tidak dapat dipertahankan, lalu memberikan ruang bagi pemain yang dikecualikan untuk kembali.
Putusan tersebut menambah daftar sengketa yang memperlihatkan sulitnya NCAA menyesuaikan regulasi dengan perubahan hukum olahraga perguruan tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, pengadilan telah memaksa perubahan pada aturan transfer, pembagian pendapatan, dan hak atlet memperoleh penghasilan dari nama, citra, serta kemiripan mereka atau NIL.
Matt Hayes, kolumnis USA Today, menilai masalah itu tidak berdiri sendiri. Menurutnya, pola penyusunan kebijakan NCAA masih terlalu dipengaruhi cara berpikir lama ketika badan tersebut memiliki posisi dominan dalam hampir setiap perdebatan hukum.
“Mereka membuat keputusan yang keliru berdasarkan pemikiran era sebelum NIL, ketika NCAA memegang kendali dalam hampir setiap perdebatan. Kemudian pengadilan datang dan membatalkannya,” tulis Hayes.
Kritik tersebut merupakan penilaian kolumnis, tetapi fakta mengenai rangkaian perubahan aturan menunjukkan adanya persoalan tata kelola yang perlu dibenahi. NCAA tidak hanya membutuhkan aturan yang tegas, melainkan juga kebijakan yang konsisten, dapat dipertanggungjawabkan, dan memperlakukan atlet dalam keadaan serupa dengan standar yang sama.
Perubahan besar terjadi sejak 2021, ketika California dan Florida mengesahkan aturan yang memungkinkan atlet memperoleh pendapatan dari NIL. NCAA kemudian mengizinkan skema tersebut, sementara perkembangan hukum berikutnya mendorong universitas untuk berbagi sebagian pendapatan olahraga dengan para pemain.
Situasi itu mengubah hubungan antara kampus, atlet, sponsor, dan liga profesional. Atlet kini memiliki lebih banyak pilihan ekonomi dan pergerakan, tetapi kampus juga menghadapi ketidakpastian mengenai kelayakan bermain, kontrak, serta perpindahan pemain. Tanpa aturan yang jelas, setiap sengketa berpotensi kembali dibawa ke pengadilan.
Kasus 16 pemain di Louisiana menunjukkan celah tersebut secara nyata. Ketika pemain yang sedang mengikuti kamp pelatihan NFL masih dapat mengajukan hak kembali ke kampus, batas antara olahraga amatir dan profesional menjadi semakin tipis. Namun, keputusan mengenai kelayakan tidak semestinya dibuat secara mendadak atau berbeda-beda tanpa dasar yang transparan.
Perbaikan yang dibutuhkan bukan sekadar mempertahankan kewenangan NCAA, tetapi membangun kepastian bagi seluruh pihak. Kampus perlu mengetahui pemain yang dapat didaftarkan, atlet harus memahami masa kelayakannya, dan liga profesional membutuhkan kejelasan mengenai status pemain yang berada dalam kamp pelatihan.
Kongres Amerika Serikat sedang membahas Protect College Sports Act sebagai salah satu upaya memberi kerangka hukum nasional. Proses legislasi itu belum menjamin penyelesaian cepat karena rancangan aturan tetap harus memperoleh dukungan di DPR dan Senat. Selama belum ada landasan yang disepakati, putusan pengadilan kemungkinan terus berperan besar dalam membentuk kebijakan olahraga kampus.
NCAA juga menghadapi dorongan untuk membuka perundingan yang lebih terstruktur dengan atlet. Pendekatan kolektif dapat membantu mengurangi aturan sepihak yang mudah dipersoalkan dan memberi ruang bagi penyelesaian yang lebih seimbang. Tujuannya bukan melemahkan kompetisi perguruan tinggi, melainkan menjaga agar sistem tetap adil dan dapat berjalan dalam jangka panjang.
Putusan Louisiana menjadi pengingat bahwa kebijakan olahraga harus mengikuti perkembangan hukum dan realitas ekonomi. NCAA masih memiliki peran penting dalam mengatur kompetisi, tetapi kewenangan itu perlu dijalankan dengan standar yang konsisten. Tanpa pembenahan, sengketa serupa dapat terus berulang dan membuat atlet maupun institusi berada dalam ketidakpastian.
Sumber rujukan: USA Today.