TendaBesar.Id - Jakarta - Israil Makin Prustrasi Akibat Tentaranya Terus Tewas Karena Dron Hizbulloh. Pasukan Israel kembali mengalami kerugian di wilayah Lebanon selatan usai serangan pesawat nirawak (drone) yang dilancarkan Hizbullah dan menewaskan dua personel militer serta melukai sejumlah lainnya dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Peristiwa ini menunjukkan semakin meningkatnya efektivitas kemampuan udara Hizbullah dalam menghadapi operasi militer penjajah zionis Israel.
Menurut laporan The Palestine Chronicle, militer Israel pada Senin mengonfirmasi tewasnya seorang anggota Brigade Maglan serta cedera yang dialami tiga tentara lainnya dalam pertempuran di Lebanon selatan. Berdasarkan informasi dari media Israel, serangan tersebut dilakukan menggunakan drone bermuatan bahan peledak yang dioperasikan oleh Hizbullah.
Dari tiga tentara yang terluka, satu orang dilaporkan berada dalam kondisi kritis, sementara dua lainnya mengalami luka ringan. Hingga saat ini, pihak militer Israel belum memberikan keterangan lebih lanjut terkait lokasi maupun detail kejadian tersebut.
Insiden tersebut terjadi kurang dari 24 jam setelah serangan drone Hizbullah lainnya menewaskan seorang tentara dari unit pengintai Brigade Givati dan melukai empat personel militer Israel di kawasan Zawtar al-Sharqiya, Lebanon selatan.
Brigade Maglan dan Brigade Givati dikenal sebagai bagian dari pasukan elite dalam struktur militer Israel. Radio Angkatan Darat Israel melaporkan bahwa drone peledak Hizbullah menghantam pasukan yang sedang menjalankan operasi di wilayah tersebut, mengakibatkan satu korban jiwa dan empat tentara lainnya mengalami luka-luka.
Rangkaian serangan ini semakin menegaskan meningkatnya penggunaan drone oleh Hizbullah dalam konflik yang kembali memanas sejak Maret lalu. Sejak pecahnya kembali pertempuran antara Hizbullah dan Israel, sedikitnya 26 tentara Israel dilaporkan tewas. Di sisi lain, operasi militer Israel disebut telah menyebabkan sekitar 3.300 warga Lebanon kehilangan nyawa.
Sejumlah analisis militer Israel yang dikutip media lokal mengakui bahwa armada drone Hizbullah kini menjadi tantangan strategis yang semakin serius bagi militer Israel. Menurut penilaian tersebut, perluasan operasi darat Israel di Lebanon selatan belum mampu menghentikan kemampuan drone Hizbullah untuk menjangkau posisi militer maupun kawasan permukiman di wilayah utara Israel.
Pejabat keamanan Israel menilai Hizbullah telah melakukan penyesuaian strategi dengan meningkatkan penggunaan drone dalam berbagai operasi. Teknologi tersebut digunakan untuk menyerang konsentrasi pasukan, kendaraan militer, serta infrastruktur pertahanan. Pendekatan ini dinilai mampu mengatasi sejumlah keterbatasan yang selama ini dihadapi dalam penggunaan roket konvensional.
Meningkatnya aktivitas drone Hizbullah juga memunculkan kekhawatiran baru di kalangan militer Israel, khususnya terkait penggunaan drone pengintai dan drone peledak di wilayah yang menjadi fokus penguatan posisi pasukan Israel.
Serangan drone terbaru tersebut berlangsung bersamaan dengan meluasnya operasi militer Hizbullah di kawasan utara Israel. Sejak Sabtu, kelompok tersebut mengumumkan serangkaian serangan yang menyasar berbagai fasilitas militer dan kawasan permukiman Israel, termasuk di Safad, Nahariya, Karmiel, Kiryat Shmona, serta pangkalan pengawasan udara dan operasi militer Meron.
Hizbullah menyatakan bahwa operasi-operasi tersebut merupakan respons terhadap berlanjutnya serangan Israel di wilayah Lebanon selatan dan timur yang menyebabkan jatuhnya korban sipil, meskipun sebelumnya telah diumumkan kesepakatan gencatan senjata pada 17 April.
Menjelang dini hari Senin, media Israel melaporkan sirene peringatan serangan udara kembali berbunyi di Tiberias dan sejumlah wilayah sekitarnya setelah peluncuran roket dari Lebanon.
Channel 12 Israel menyebutkan bahwa beberapa roket diluncurkan dari wilayah Lebanon dalam dua gelombang serangan yang terpisah. Sementara itu, Channel 14 melaporkan adanya sebuah proyektil yang jatuh di kawasan permukiman Kfar Hittim, wilayah Galilea Bawah.
Perkembangan terbaru ini semakin meningkatkan intensitas ketegangan di perbatasan utara Israel. Sejumlah media Israel bahkan menyebut periode saat ini sebagai salah satu fase konfrontasi paling sengit sejak pemberlakuan gencatan senjata beberapa waktu lalu.
(ah/tb)
