NASIHAT HIDUP PERAN PUNCAK KEIMANAN DI SAAT SULIT, (Kajian Tawhawuf & Tafsir Maudhu'i biad-Diraayah)


Badruddin HSubky
Pondok Pesantren Tahfidz & Tafsir Al-Badar, Cilendek, Bogor.

TendaBesar.Id - Kajian - NASIHAT HIDUP PERAN PUNCAK KEIMANAN DI SAAT SULIT, (Kajian Tawhawuf & Tafsir Maudhu'i biad-Diraayah) sebuah kajian mendalam tentang tasawuf dan tafsir tematik yang relevan dengan kehidupan.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ.

Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah), sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Janganlah engkau berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak kamu lihat, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. At-Taubah [9]: 40)

Dari sebagaian kalamat Surah At-Taubah Ayat 40 yaitu  إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا  (_Allah Bersama Kita)_ akan dijadikan judul pada Nasihat  Pagi hari ini. Yaitu Allah SWT akan membersamai kita (_mu'min sejatai_) di saat dihadapakan dengan knodisi yang sangat amat sulit, terjepit dan terhempit pailit .

Jika dikaji ayat 40 Surat At-Taubah di atas secara mendalam, melalui metode Tafsir Maudhu'i bid-Diraayah (_Tafsir Tematik Berdasarkan Penalaran Logis yang Lurus_), dan ayat di atas dikorelasikan dengan ayat-ayat lainnya yang bermakana sama, yaitu Allah Bersama Kita, maka ayat di atas dapat menjadi solusi dari hiruk pikuk dinamika kehidupan social di masa sulit saat ini. Karena itu judul nasihat Pagi Hari ini adalah menyikapi bagaimana  Peran Puncak Keimanan di Saat Sulit. 
Kini ekonomi sulit, geo politik rumit dan suri teladan makin sedikit, serta probemtika kehidunpan lainnya makin menghempit.

Kenapa kita harus membahas  judul Peran Puncak Keimanan di Saat Sulit? Karena kesulitan, kesedihan, suka, duka, dan rasa takut yang mendalam merupakan sunatullah yang pasti terjadi. Bahkan ujian-ujian berat itu, tidak hanya dialami dan menimpa kita selaku hamba yang lemah, ujian yang  sangat berat itu juga dapat dialami oleh para nabi dan rasul mulia. Bedanya  terletak pada respons keimanan yang melekat pada hamba Allah di bumi ini.  Ketika seorang hamba diuji dengan kesulitan yang rumit, sulit dan melilit, maka keimanan sempurna para nabi dan rasul, justru semakin memuncak ketingkat tertinggi, sehingga mampu menyelesaikannya dengan sangat baik dan sempurna (perhatikan kisah Nabi Ibrahim (QS Al-Baqarah 2/24) dan keteguhan Rasulullah SAW disaat menghadapi serangan musuh di berbagai petemuran perang, atau di saat beliau akan hijrah dari Mekakh ke Madinah, seperti di jelaskan pada kisah di ayat 40 surat At-Taubah ini.
 
Dengan melalui penelusuran ayat 40 Surata At-Taubah di atas, kita diajak meneladani keteguhan spiritual Rasulullah SAW disaat menghadapi titik nadir perjuangan beliau.

Pada penjelasan judul dari ayat di atas ini, maka  akan digunakan dua metota tafsir:  (1) Tafsir tekstual (2) Tafsir Konteksntual.

BAGIAN PERTAMA: (Tinjauan Tafsir Tekstual  (Nash).

Ada 8 (Delapan) Kalimat yg akan dijelaskan pada ayat 40 Surat At-Taubah, sbb:

1. Kalimat  إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ  (_Jika kamu tidak mau menolong  Rasulullah SAW, maka sesungguhnya Allah telah menolongnya_). 
Kalimat ini merupakan peringatan keras bagi umat Islam. Menurut para ahli tafsir, bahwa susunan kalimat pertanyaan di sini, tidak langsung  jawabannya secara tekstual,  namun dijawab dengan ekksistensi historis perjalanan ketika akan berperang. Maksudnya adalah sbb: Jika umat Islam tidak mau menolong perjuangan Rasulullah SAW, maka ketahuilah bahwa Allah SWT mampu menolong kekasih-Nya, sebagaimana pertolongan nyata yang telah  dibuktikan ketika beliau diusir, di-presekusi, dan diancam dengan akan dibunuh oleh kafir Quraisy saat itu. Kemdian Allah SWT menolong beliau.

2. Kalimat  ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ  (_Rasulullah  SAW salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam GuaTsur_). 
Posisi Rasulullah SAW disaat akan hijrah dari Mekkah ke Madinah ditemani oleh sahabat setianya, Abu Bakar Siddiq RA, di dalam  gua tsur/gua hira.  Mereka berdua berada di sana selama tiga hari tiga malam, tujuannya untuk mengecoh kejaran kaum musyrikin dari Mekah.

3. Kalimat إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ   (_Ketika Nbi Mhamamd SAW berabda kepada sahabatnya_.
Di saat  kafir qurasy mengejar Rasulullah SAW dan Abu Bakar Shidiq RA, mereka berdiri, tepat di atas gua, sehingga kaki-kaki mereka terlihat jelas dari dalam gua oleh Rasulullah  SAW dan Abu Bakar RA.  Abu Bakar pun gemetar ketakutan yang  mendalam disertai rasa waswas atas keselamatan dirinya bersama Rasulullah SAW dalam gua. Selain rasa takut dan waswas , kesedihan juga muncul, karena harus meninggalkan tanah kelahirannya di Mekah.

4. Kalimat لَا تَحْزَنْ   (_Janganlah engkau berduka cita, bersedih hati_). 
Disaat situasi yang sangat sulit , menekutkan dan menegangkan itu, Rasulullah SAW langsung merangkul dan menenangkan Abu Bakar  dengan kalimat: _Laatahzan innallaha m'anaa_. Dalam buku kamus dan kitab-kitab  tafsir lainnya disebutkan bahwa kata-kata  al-hazan (اَلْحَزَنُ ) atau grief/dukacita, maknanya adalah _rasa sedih mendalamkarena hilangnya sesuatu di masa lalu_.  Sedangkan kata-kata al-ham atau al-khauf (اَلْهَمُّ atau اَلْخَوْفُ) atau fear/ketakutan, maknanya adalah: kecemasan atas bencana di masa depan.  Dalam hal ini, di hati Rasulullah SAW tidak ada rasa sedih-berlebih dan rasa takut-mendalam, karena dari hati pribadi beliau muncul pancaran wahyu yang  penuh iman dan yakin yg memuncak dari dalam. Diriwayatakan bahwa kekhawatiran dan kesedihan Abu Bakar pada saat itu, bukan karena dia sedih sebab wafat dibunuh musuh.  Namun Abu Bakar sangat  mengakhaarirkan jika Rasuluallah terbunuh. Sehingga Abu Bakar menuturkan kalimat sbb:  Ya Rasulallah, idza muttu- anaa, fa-anna rajulun wahidun. Waidza mutta- anta, halakatiil-ummatu, wad-didinu.  (_Ya Rasuluallah, jika aku yang mati, maka yang mati hanya akau seorang diri. Namun jika engkau yang mati, maka mati-lah seleuruh umat manusia dan agama (Islam_). (Tafsir Shawi Juz 2, hlm. 150). 

5. Kalimat إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا    (_Sesungguhnya Allah bersama kita_). 
Adalah Syekh Nashir As-Sadi,  menjelaskan bahwa  Innallah  Ma'ana, Maksudunya adalah  bi-'aunihi wa-nashrihi, _dengan petolongan Allah dan bantun-Nya_. (Tafsir Taesil-Karimur- Rahman, hlm. 385). Sedangkan Imam Shawi Al-Maliky menjelaskan maknaya adalah ma'iyyatan  ma'nawiyatan  khaahsatan (_kebersmaan Allah SWT secara ghaib dan sangat spesipik, yaitu hak prioritas bagai hamba-hamba-Nya teretntu saja_). (Tafsir Shawi Al-Maliky, Juz 2, hlm. 110).

6. Kalimat فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ  (_Maka Allah menurunkan ketenangan kepada-nya_). 
Terjadi perbedaan pendapat ulama ahli fafsir mengenai kata ganti (domir) عَلَيْهِ ('alayhi).  Sebagian besar ahli tafsir menegaskan bahwa domir  tersebut kembali pada objek terdekat, yaitu لِصَاحِبِهِ (sahabat nabi, yakni Abu Bakar Siddiq RA).  Kenapa?. Karena untuk memeprkuat hati dan jiwanya yang terguncang  akibat kejaran kaum kuffar qurasy dari Mekkah. Yang merasa ketakutan  bukan kepada Rasuluallah SAW,  karena beliau sejak awal sudah memiliki keteguhan iman, kekokohan hatai, tanpa dikuasai rasa takut. (Tafsir Jalalain, Juz 1, hlm. 245).

7. Kalimat وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا  (_Dan Allah memperkuat Rasululah dengan bala tentara yang tidak kamu lihat_). 
Para ahli tafsir sepakat bahwa Allah SWT memperkuat benteng  pertahanan Rasulullah SAW dengan mengirimkan sejumlah bala tentara gaib (malaikat) sebagai perlindungan selama masa persembunyian di gua hira yang  sangat  menegangkan itu.

8. Kalimat وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا (_Dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah, dan seruan (firman) Allah itu tinggi_). 

Kalimat pada ayat ini menegaskan sebuah kepastian ideologis. Segala bentuk seruan kekafiran, kemusyrikan, kezaliman, tipu daya dan rekaayasa jahat, atau kesewenang-wenangan kaum batil pasti hancur dan dapat dikalahkan oleh al-haq atau disebut  al-mghluub (اَلْمَغْلُوبُ).  Sebaliknya, kalimat tauhid atau ajakan kebenaran dan panji dakwah Ilalalh, pasti meraih kemenangan atau disebut al-ghaalib (اَلْغَالِبُ ) sebagai kedudukan  tertinggi dan kejayaan termulia di sisi Allah SWT (al-'ulyaa).

BAGIAN KEDUA: (Tinjauan Tafsir Kontemporer)

1.  Makna ma'iyyah haqiqiyyah,  yang ada pada kalimat  إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا adalah konsep ma'iyyah atau Kebersamaan AllahSWT dengan hamba-hamba-Nya yang shaleh ( اَلْمَعِيَّةُ). Di dalam Al-Qur'an, konsep ini sering digabungkan dengan kata-kata  sabar, seperi firman Allah SWT إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ   (_Sesungguhnya  Allah bersama orang-orang yang sabar_ (QS. Al-Baqarah ayat 155). 

Makna kebersamaan di sini disebut dengan ma'iyyah haqiqiyyah (kebersamaan yang hakiki).  Pilar utamanya dari kalimat إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا adalah  dari  frasa hati nurani (seper ego) yaitu: رُؤْيَةُ الْبَصِيرَةِ إِلَى اللَّهِ   (_Melihatnya mata hati secara lekat kepada Allah SWT_). Dan untuk mencapai derajat tertinggi ini, seorang hamba wajib melenyapkan pandangan dari dan ego dirinya atau رُؤْيَةُ النَّفْسِ بِعَيْنِ الرَّأْسِ  (hamba jangan melihat dirinya sendiri dengan mata kepala/mata keakuan). Di saat badai kesulitan datang, maka segala keterikatan pada makhluk, harta benda, rumah, kendaraan, jabatan, bahkan eksistensi dirinya sendiri harus sirna dari ruang hati. Yang tersisa hanyalah Kemahabesaran Allah SWT. 
Para ulama menjelaskan bahwa manifestasi kebersamaan Allah ini, hanya dapat dirasakan ketika keimanan seseorang berada di titik kulminasi tertinggi. 
Menurut Imam Shawi bahwa keimanan manusia derajatnya ada tiga tingkatan .

1).  Iman Ilmu _(Īmānul 'Ilmi)_ Keimanan seorang hamba yg sudah bersandar dengan dalil-dalil sayar'i yg formal, baik dalil aqli (logika) maupun dalil naqli (Al-Qur'an dan Hadis shahih).  Keimanan tingkat pertama ini sudah sah secara syari'at dan hakikat ilmu ushuluddin, serta sudah bisa dipertanggung-jawabkan di hadapaan Allah swt di akhirat kelak.

2). Iman Hakikat /Iman Ma'rifat  atau _(Īmānul-Ḥaqīqat)._

 Keimanan tingkat ini adalah keimanan yang telah melewati dari batas-batas dalil lahiriah, sehingga sampai kepada tingkat iman haqul yaqin (حَقُّ الْيَقِينِ ). 
Posisi tingkatan iman ini adalah hati seorang hamba sudah tidak lagi membutuhkan pencarian dalil, karena jiwanya telah menyaksikan kebesaran Allah SWT. Di dalam kehidupan spiritual hatinya sudah wushul illaah (sampaai kepada posoisi haqul yaqin. Dia telah menyaksikan adanya kebenaran yang sebenanya).

3). Īmān 'Iyān _(Imanul-'Iyān)

Tingkatan iman ini adalah tingkatan iman tertinggi yang diambil dari akar kata ainun (عَيْنٌ), atau secara spesifik disebut 
'inul-basiirah (عَيْنُ الْبَصِيرَةِ) ataua mata hati). Ulama ushuluddin mendefinisikannya iamannya sudah berada pada posisi  دَرَجَةٌ فَوْقَ دَرَجَةِ الْيَقِينِ  (_Tingkatan derajat imanannya sudah berada di atas tingkatan iman haqul-yakin_).
Pada maqam Iman 'Iyan inilah puncak keimanan berfungsi penuh.  Karena itu disaat badai kesulitan menghantam, maka rasa sedih, bimbang, bingung dan rasa takut , menjadi sirna seketika karena mata hati hamba hanya melihat keadaan hakiki dan pasrahnya hanya kepada kebesaran Allah Sang Mahapenguasa. *(Hasyiyat Shawi 'ala Tafsirl-Jalalain, Juz 2, hlm. 110):

2. Korelasi ayat 40 surat  At-Taubah Dengan Ayat-ayat lainnya.

1). Larangan Sempit Hati dan Sedih Jiwa, atas segala pristiwa dari rekayasa kebatilan, firman Allah SET:
  وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ  إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ
_Bersabarlah (ya Muhammad) dan tidalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah, dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka, dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.  Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan._ (QS. An-Nahl 16: 127-128).

Ayat ini melarang, jangan bersempit hati (ḍayiq) terhadap segala makar, konspirasi, dan tipu daya jahat  (mimmā yamkurūn),  yang dirancang oleh orang-orang zalim.  Kita dituntut tetap teguh hati, gembira jiwa dan optimis masa depan karena perlindungan Allah SWT pasti membersamai orang yang bertakwa dan konsisten berbuat kebaikan. (Tafsir  Qur'anual-'Azhim, Juz 4, hlm. 612)

2). Larangan Tergoda oleh kenikamatan Dunia Penipu, firman Allah SWT:
لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ
_Jangan sekali-kali kamu tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan (azwājan) dari mereka, dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka_. (QS. Al-Hijr 15: 88 & QS. An-Naml 27: 70)
 
Sebagaian ahli tafsir menjelaskan kata-kata azwajan (أَزْوَاجًا)  adalah "duniawi" mereka (orang zalim). Masudnya limpahan harta dan fasilitas materi yang hanya dinikmati di dunia saja. Kita dilarang melirik atau sedih dan berduka cita karena tidak mendapatkan kemewahan dunia, baik jabatan, mupun materi seperti yang dimiliki kaum yang ingkar. Kehilangan atau belum diraihnya dunia pada diri kita,  tidak boleh memicu kesedihan, selama Allah SWT membersamai kita, dengan adanya kita sudah patuh malaksanakan syari'at , disertai rasa iman mendalam dan ma'rifat yang tertinggi, yaitu  rindu dan tenang hati pada keagunan-Nya.

3). Anjuran Istiqamah dalam beribadah, sehingga mendapat nilai-nilai kewalian, firmn Allah SWT:
   أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
 _Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati._(QS. Yunus 10: 62). 

Imam Sibli menegaskan bahwa para kekasih Allah (waliyullah)  dapat mencapai derajat iman yg bebas dai rasa takut dan sedih hati,  karena mereka telah memiliki Iman 'Iyaan Mereka bener-benar telah mengenal hakikat jati dirinya, sehingga mengenal Rabb-nya. Mereka telah mampu memutuskan hubungan dirinya dari segala bentuk dunia yg menipu dan segala kezaliam dan segala bentuk keaksiatan lainnya.

3. Empat Cara utuk Meraih Puncak Keimanan (Iman 'Iyaan)
Iman 'Iyaan tidak datang tiba-tiba, tidak berjatuhan turun langsung serta-merta, dan tidak akan turun bagaikan hujan dari dari langit, melainkan ia (iman iyaan), harus ditempuh melalui 4 (empat) proses pensucian jiwa (tazkiyatun nafs) yang sangat disiplin ketat:

1). Menjaga Sinar Hati _(Nūr Baṣīrah)_.
Mata hati memiliki kilau cahaya yang harus dijaga dari lintasan bayangan-bayangan -nya dari dunia semu. Hati manusia diibaratkan sebagai cermin atau reflektor yang dapat merekam jejak, apa yang ada dihadapannya, yang biasa ditangkap oleh indra. Jika cermin atau reflektor tertutup oleh debu,  maka dipastikan tidak akan mampu mereplesikan dan menangkap bayangan dengan baik,  bahkan bisa putus hubungan dengan apa yag ada di hadapannya. Demikain pula  dengan hati sanubari, jika penuh dengan kotoran dosa akibat syahwat nafsu, maka cermin hati akan menjadi buram dan kotor, sehingga akan gagal mdenerima ilmu dan iman ma'rifat,  apa lagi iman iyaan yg tertingga itu, sehingga mata hati hamba akan gagal memantulkan cahaya kebaikan.

 2). Mengendalikan Hawa Nafsu _(Muqābalatus-Shahawāt)_.
Nafsu manusia secara natural memiliki kecenderungan buruk, seperti yg difirman Allah SWT: فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا  (_Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu, kefasikan dan ketakwaannya_). Hal ini semakna dengan firman Allah, QS. An-Naziat ayat 40-41: _Barangsiapa yang takut kepada kebesaran Rabb-nya,  dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka surgalah tempat tinggalnya_. Keinginan nafsu (makan, minum, seks dsb) wajib diletakkan pada proporsi waktu dan tempat yang  sesaui syariat Islam, bukan dibiarkan liar tanpa kendali mengikuti jejak nafsu amarah (serakah)  dan nafsu lawwaamah (yg akibatnya penyesalan).

3). Membersihkan Hati dan Jiwa dari Dosa dari Kelalaiannya _(Janābatul Ghaflah)_.

Hati yang dikuasai kelalaian (ghaflah), diibaratkan seperti orang yang dalam keadaan junub (hadas besar), di mana ia terhalang untuk masuk ke dalam orientasi ibadah yang suci. Setiap langkah kehidupan baik di pasar maupun di kantor dan di tempat-tempat lainnya—harus dasatukan dan dilebur dengan mengingat Allah, bukan sekadar hanya memburu dunia dan bukan hanya memenuhi kebutuhan biologis semata.

 4). Meninggalkan Seluruh Kemaksiatan _(Tark ul-Ātsām wal-Ma'āṣī)_

Memutuskan mata rantai segala kemaksiatan yang bisa dilakukan terus menerus (qath'u isrārul ma'āṣī), adalah kunci untuk membuka pintu spiritual tertinggi. Jika seorang hamba meninggalkan semua bentuk maksiat, maka ia akan meraih iman iyyan (puncak keimanan tertinggi), ia akan musyaahadah dan maukhaasyafah, ia akan merasakan nikmat iman dan akan melihat keindahan dan kenikamatan surga sebelum dia masuk ke dalam surga.

Kisah Gamba Allah yang Meninglkan Setitik Dosa.

Syekh Anfzi, dalam kitab Syarah Hikam mengkisahkan, ada  suatu dialog antara  Ahmad bin Hanbal dengan Ahmad Hawari.  Ahmad bin Hanbal bertanya kepada Ahmad Hawari:  _"Apakah nasihat terdalam yang  engkau dengar dari gurumu  (Abu Sulaiman Ad-Darani) selama engkau belajar? ”_.  Ahmad Hawari menjawab dengan takzim: _"Sesungguhnya aku merasa berat  menyampaikannya kepadamu, melainkan bacalah lebih dahulu: "Subḥānallāh bilā 'ujbin (Maha Suci Allah tanpa ada rasa bangga diri dalam hati)"_. 
Setelah Ahmad bin Hanbal membaca (subhanallah), kemudian Ahmad Hawari menjelaskan nasihat dari gurunya, sbb: Jika jiwa (hawa nafsu) seorang hamba telah kuat/semangat untuk meninggalkan seluruh kemaksiatan (Taikun lil ma'āṣī), demi menggapai keagungan alam malakut (alam Kemahabesaran Allah), maka jiwa akan melesat cepat naik ke langit spiritual tertinggi. Di titik puncak itulah, engkau akan dianugerahi puncak ilmu—yaitu Ilmu Ladunni—dan puncak keimanan—yaitu Iman 'Iyan. Dan ketika kemaksiatan telah ditinggalkan semuanya, maka  engkau tidak akan lagi membutuhkan guru lahiriah, sebab kebersihan dirimu dari maksiat itu, sudah cukup untuk mendatangkan puncak ilmu dan iman langsung dari Allah”.

Mendengar pemaparan untaian kata mutiara penuh hikmah itu, Ahmad bin Hanbal langsung terperangah. Beliau berdiri, lalu duduk, kemudian berdiri lagi kemudia duduk lagi, berulang kali. Seraya Ahmad bin Hambal, berucap  penuh kagum: "Setelah saya mendengar paparan engkau wahai Ahmad Hawari: “Demi Allah, selama saya hidup, saya belum pernah mendengar untaian kisah spiritual yang seindah itu yg dapat  mengagumkan jiwaku". (Hilyatul-Awliya', Juz 10, hlm. 15 & Syarah kitab Hikam Juz I, hlm.  ).
Ahmad bin Hambal pun, akhirnya menjadi seorang mujtahid beasar, dan karaya serta pemikirannya menjadi rujukan umat manusia di dunia ini.  

4. Manifestasi Keimanan di Tengah Krisis Sosial-Politik

Bagaimana kita dapat menyikapi situasi bangsa yang dilanda berbagai krisis ini: Sosial, ekonomi, politik dsb. Misalnya menyikapi di masa Pemilu.  Kita sering dihadapkan dengan money politics. Disaat itulah segala langkah dan  gerakan ajakan yang hobbi kemusyrikan politik memberikan bujukan dengan uang. Orang yang melakukan tindakan curang itu, hakikatnya kalah  (maghlūb). Sebaliknya, gerakan yang  membela kebenaran, memperjuangkan umat, tidak tergiur bujukan penuh tipuan, maka ini lah hakikatnya Kelompok yg menang . Mereka para pembela kebenaran  berpegang teguh kepada kalimatullah hiyal'ulyaa. Terus berjuang membela keadilan dan kebenaran.  Kuncinya dalam mengahadapi berbagai gejolak dunia itu adalah, jika iman kuat maka keimanan akan tembus derajat iman 'iyan, maka pertolongan Allah pun pasti turun menyelamatkan kita dari tipuan kehidupan dunia yang kelam.

KESIMPULAN

 1.  Kesedihan, kesulitan dan penderitaan dalam hidup dan kehidupan merupakan ketetapan hukum Allah SWT yang dapat terjadi kepada siapapun di dunia ini (*sunnatullah). Semua kejadin yang  datang dari Allah SWT harus disikapi dengan optimisme, dihadapi dengan keteguhan hati dan kenetangan jiwa (spiritualitas tinggi). Hilangan dan belum sampai kehidupan dunia yang sejahatera di duni bagi kita,  jangan sampai merusak keimanan dan menjantuhkan ketenangan batin, karena kebersamaan Allah SWT yang hakiki (*ma'iyyah haqiqiyyah) bagi hamba-hamba-Nya adalah melebihi dari segala karunia Allah SWT lainnya.

 2. Puncak keimanan berada pada derajat iman 'iyaan yaitu karunia Allah SWT di atas ilmu dan iman hakikat.  Sampainya iman iyyan pada kita melalui proses spritual, yaitu setalah mata hati (ainul-basirah) bersih dari segala noda dan dosa, sehingga nilai spertual akan fokus terhadap Kemahabesaran Allah SWT. Derajat iman iyyaan ini dapat dicapai melalui empat tahapan: Menjaga kesucian dan sinar hati (su'aul bashihah), Menahan gejolak  nafsu dan mengarahkannya kepada perintah Allah SWT (irtihaal ialallah), Membersihkan diri dari dosa kelalaian hati (janabaati ghaflatih) dan berkomitmen diri kita untuk  meninggalkan seluruh kemaksiatan (tarkul ma'aasi kulliha).

 3. Dalam menghadapi krisis multidimensi dan pertarungan ideologis di ranah sosial-politik (Pra dan Pasca PEMILU mislanhya), seorang muslim sejati tidak boleh pesimis, sempit hati dan malas jiwa untuk berkorban dengan harta, raga daniwa. Muslim sejati wajib optimes, penuh harapan kemenangan dalam memberantas  segala kejahatan musuh. Perjuangan membela kebenaran dan mengakkan keaadilan (kalimatullah hiyal-ulya) yang  berasakan tauhidullah pasti meraih kemenangan hakiki  (ghalib). Sedangkan tipu daya dan kejahatan kaum kafir atau kaum yang sepaham dengan mereka (suflaa), pasti mengalami kekalahan dan mereka akan dihancur leburkan sampaai keakar –akarnya  (maghlub). Semoga kita, dan umat Islam yang sedang berjuang di jalan Allah SWT ditolong dan dilindungi serta diberikan taufik, hidayah, rahmah dan maghfirah-Nya,  yang akhirnya kita  semua meraih kemenangan hakiki dan kebaghagiann sempurna dunia akhirat.
و الله اعلم بالصّواب.
Lebih baru Lebih lama

ads

ads

نموذج الاتصال